Senin, 14 Maret 2011

Ruang

Diterbitkan oleh kompas.com http://oase.kompas.com/read/2009/11/20/03445768/puisi-puisi.mohammad.firza

Kota
Hingga kelampun mencumbui merah senja
kota ini tetap saja enggan tersenyum
Semua mahluk menari-nari di atas iramanya sendiri-sendiri
Hanya harap setengah hampa mewarnai
Sekejap..
Lalu pergi…
(Surabaya, Oktober 2009)

Bunga Gerbang malam
Kau disia-sia
Kau dipuja-puja
Diantara gerbang malam
Disetiap lekukan tubuhmu yang bermawar
Binar matamu, nanar
Pada kekumbang yang lalu lalang

Beduk subuh bertabuh
Kau pulang melepas rengkuh
Berteriak menyalah takdir
Sadar akan rapuh memecah tabir
Kau terus berkeluh lusuh
Hingga luruh
(Surabaya, Oktober 2009)

Pemimpinku
Pemimpinku..
Sejenak liriklah rakyatmu ini
Jangan hanya berdendang dengan irama istanamu
Mari berjoget bersama lagu kami
Lagu-lagu kelaparan kami
Lagu-lagu kesakitan kami
Lagu-lagu kematian kami

Pemimpinku..
Setitik harap kami menghinggap
Agar kita saling mendekap
Saling bertatap
Agar kau bisa meratap

Tapi pemimpinku…
Apakah kau mau?
Kau putih
Kami hitam

Kau berwangi khas Ningrat
Kami berwangi khas keringat

Kau berbalut sutra dan Jas
Kami pejalan tanpa alas
(Jember 15 Oktober 2009)

Hikayat Sang Guru
Ini cerita tentang guru ompong
Mengonggong suara kosong
Tak mau disalah karena sombong
Semua menatap dengan bengong

Kami diperkerbau hidung dibolong
Menyuara tolong
Hilang di gorong-gorong

Dentur meretak suara gong
Merasuk membangkit semangat merong-rong
Melebur dalam satu gerbong
Bangkit menerjang suara kosong si guru ompong

(Jember, 14 Oktober 2009)

Kelam
Sulit sekali kau hilang
Selalu menari-nari
Di kelopak mata kanan dan kiri

Tertawa-tawa
Beria-ria
Dalam kepala

Berlari-lari
Bersembunyi
Dalam kantung hati

Mengapa tak jua kian kemput
Kau selalu merona dalam larut
Haruskah aku memberingsut siput
Agar kau berlutut
Lalu surut
(Jember, 15 Oktober 2009)

Rabu, 11 November 2009

Saudaraku di hamparan jalan

tanpa mengenal lelah

menelan serapah

kau lemparkan tawa pembungkus luka

dibalik hitam matamu

lusuh suaramu menyobek tirai keheningan malam

mencari hidup di hidupnya perut-perut sombong

Malam tua

Merayapkan lelap

berselimut debu jalanan

Bersandar di dinding-dinding hampa harapan

Kau terus menadah tangan

(Surabaya,
11 November 2009)

(surabaya, 11 November 2009)

Kamis, 15 Oktober 2009

tulisan ini saya tarok di dunia maya bukan bermaksud apa apa, hanya ingin mengekspresikan ribuan trimakasih kepada seorang senior yang membuat aku mencintai aksara (di terbitkan di oase kompas pada hari kamis 15 oktober 2009, puisi pertamaku yang di publikasikan oleh media cetak)

Puisi-puisi Mohammad Firza
Kamis, 15 Oktober 2009 | 12:42 WIB

Rumah Kami

Kemah peraduan ini
tempat kami bermuka-muka
berbini dan beranak
Tak ada daya bentur mampu hentak menyeruak

Semangat ini tumbuh
bak gelombang pasang
membuncah terjang
Walau pukulan bertalu ribut
Kami tetap pejalan larut
Menembus kabut…

(Jember, 21 Juli 2009)

Perempuanku
/1/
Rintik gemintik hujan di magrib itu..
sosok hawa terlihat lunglai melambai
mencari adam sang pendawai..
seakan berenung bingung dia menatapku,
kemudian kami bermuka-muka
beria-ria
bertemu dalam kata serasa…
/2/
Kemudian..
Siapa yang kasih harapan!
Ucapmu hentak menyeruak,
hatiku beku kaku lirih pilu,
Ah.. ku hapus saja ini rasa kian terasa,
duhai bidadari lembut dalam hatiku yang berkabut,
tampaknya menjadi teman,
kau punya rengut takkan berlarut..

/3/
Saban hari kami melangkah
Tangan terus tertadah
Mulut terus membusah ruah
Mendayu suara patah: “Bersabarlah…”

(Jember, 12 September 2009)

Sobat

Aku menyeru tanpa balas satu suara...
hanya lalu,
mati beku di udara...
sepi...
sunyi...
Kemana perginya tarian itu
pekekiku murka

Hati terpukul denture,
semangat terkabur setengah hancur
Melihat kau menarikan irama pelacur

(Jember, 28 Juli 2009)

Kampus

Inilah tempat awalku berpijak,
mengejar waktu mencari jejak,
untuk berdiri tegak,
Para pencari musuh,
riuh gemuruh
saling tuduh idealism tidak utuh,
tempat apa ini teriakku sungguh..
(Jember, Agustus 2009)


Mohammad Firza: Mahasiswa Ilmu Administrasi Negara Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Jember. Aktif menulis artikel opini dimedia cetak, beberapa tulisan pernah di muat di Radar Jember, saat ini masih belajar mandalami sastra dalam kajian puisi

Jumat, 09 Oktober 2009

sabar

Saban hari dia melangkah
Tangan terus tertadah
Mulut membusah ruah
Mendayu suara patah: “Bersabarlah…”
(Jember, 8 Oktober 2009)

Ibu

Tanpa menghiraukan rasa lelahmu kau timang aku,tanpa menggubris kantukmu kau lelapkan aku dalam dekapmu, kini aku tumbuh dalam bimbingmu,dalam nilai-nilaimu yg begitu luhur mampu memagari tiap sengat liku jalanku, kini aku hidup di rantau orang mencari ilmu untuk masa depan, sudah empat tahun aku belum melihat wajah lembutmu yg penuh kasih sayang itu, oh tuhan aku ingin membasuh kaki suci itu dan meminumkan pembasuh itu pada jiwa raga yang kotor ini, aku rindu padamu ibu...

Lebaran

seperti tahun sebelumnya, aku merasakan getirnya jd anak rantau ketika semua orang berbelai sanak saudara, aku lunglai di amuk rasa, namun inilah cerita yang ku bawa pulang nanti, cerita yang akan q dongengkan pada kawan, saudara, anak dan cucuku kelak, sebuah kisah perjalann sang perantau dalam mencari makna nilai-nilai kehidupan dalam dinamika bumi manusia (Minggu, 20 September 2009)

*Ganyang Malaysia*

"Lihatlah saudara.. lihatlah kelakuan mereka terhadap rumah kita! Lbh baik kita hancurkan saja “bangunan” yg sudah lama kita bangun ini, kita trpanggang rangka membangun raga, mrka lepas trtwa merampas senja..."
(Jember, 29 Agustus 2009)