Kamis, 15 Oktober 2009

tulisan ini saya tarok di dunia maya bukan bermaksud apa apa, hanya ingin mengekspresikan ribuan trimakasih kepada seorang senior yang membuat aku mencintai aksara (di terbitkan di oase kompas pada hari kamis 15 oktober 2009, puisi pertamaku yang di publikasikan oleh media cetak)

Puisi-puisi Mohammad Firza
Kamis, 15 Oktober 2009 | 12:42 WIB

Rumah Kami

Kemah peraduan ini
tempat kami bermuka-muka
berbini dan beranak
Tak ada daya bentur mampu hentak menyeruak

Semangat ini tumbuh
bak gelombang pasang
membuncah terjang
Walau pukulan bertalu ribut
Kami tetap pejalan larut
Menembus kabut…

(Jember, 21 Juli 2009)

Perempuanku
/1/
Rintik gemintik hujan di magrib itu..
sosok hawa terlihat lunglai melambai
mencari adam sang pendawai..
seakan berenung bingung dia menatapku,
kemudian kami bermuka-muka
beria-ria
bertemu dalam kata serasa…
/2/
Kemudian..
Siapa yang kasih harapan!
Ucapmu hentak menyeruak,
hatiku beku kaku lirih pilu,
Ah.. ku hapus saja ini rasa kian terasa,
duhai bidadari lembut dalam hatiku yang berkabut,
tampaknya menjadi teman,
kau punya rengut takkan berlarut..

/3/
Saban hari kami melangkah
Tangan terus tertadah
Mulut terus membusah ruah
Mendayu suara patah: “Bersabarlah…”

(Jember, 12 September 2009)

Sobat

Aku menyeru tanpa balas satu suara...
hanya lalu,
mati beku di udara...
sepi...
sunyi...
Kemana perginya tarian itu
pekekiku murka

Hati terpukul denture,
semangat terkabur setengah hancur
Melihat kau menarikan irama pelacur

(Jember, 28 Juli 2009)

Kampus

Inilah tempat awalku berpijak,
mengejar waktu mencari jejak,
untuk berdiri tegak,
Para pencari musuh,
riuh gemuruh
saling tuduh idealism tidak utuh,
tempat apa ini teriakku sungguh..
(Jember, Agustus 2009)


Mohammad Firza: Mahasiswa Ilmu Administrasi Negara Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Jember. Aktif menulis artikel opini dimedia cetak, beberapa tulisan pernah di muat di Radar Jember, saat ini masih belajar mandalami sastra dalam kajian puisi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar