Rabu, 11 November 2009

Saudaraku di hamparan jalan

tanpa mengenal lelah

menelan serapah

kau lemparkan tawa pembungkus luka

dibalik hitam matamu

lusuh suaramu menyobek tirai keheningan malam

mencari hidup di hidupnya perut-perut sombong

Malam tua

Merayapkan lelap

berselimut debu jalanan

Bersandar di dinding-dinding hampa harapan

Kau terus menadah tangan

(Surabaya,
11 November 2009)

(surabaya, 11 November 2009)

Kamis, 15 Oktober 2009

tulisan ini saya tarok di dunia maya bukan bermaksud apa apa, hanya ingin mengekspresikan ribuan trimakasih kepada seorang senior yang membuat aku mencintai aksara (di terbitkan di oase kompas pada hari kamis 15 oktober 2009, puisi pertamaku yang di publikasikan oleh media cetak)

Puisi-puisi Mohammad Firza
Kamis, 15 Oktober 2009 | 12:42 WIB

Rumah Kami

Kemah peraduan ini
tempat kami bermuka-muka
berbini dan beranak
Tak ada daya bentur mampu hentak menyeruak

Semangat ini tumbuh
bak gelombang pasang
membuncah terjang
Walau pukulan bertalu ribut
Kami tetap pejalan larut
Menembus kabut…

(Jember, 21 Juli 2009)

Perempuanku
/1/
Rintik gemintik hujan di magrib itu..
sosok hawa terlihat lunglai melambai
mencari adam sang pendawai..
seakan berenung bingung dia menatapku,
kemudian kami bermuka-muka
beria-ria
bertemu dalam kata serasa…
/2/
Kemudian..
Siapa yang kasih harapan!
Ucapmu hentak menyeruak,
hatiku beku kaku lirih pilu,
Ah.. ku hapus saja ini rasa kian terasa,
duhai bidadari lembut dalam hatiku yang berkabut,
tampaknya menjadi teman,
kau punya rengut takkan berlarut..

/3/
Saban hari kami melangkah
Tangan terus tertadah
Mulut terus membusah ruah
Mendayu suara patah: “Bersabarlah…”

(Jember, 12 September 2009)

Sobat

Aku menyeru tanpa balas satu suara...
hanya lalu,
mati beku di udara...
sepi...
sunyi...
Kemana perginya tarian itu
pekekiku murka

Hati terpukul denture,
semangat terkabur setengah hancur
Melihat kau menarikan irama pelacur

(Jember, 28 Juli 2009)

Kampus

Inilah tempat awalku berpijak,
mengejar waktu mencari jejak,
untuk berdiri tegak,
Para pencari musuh,
riuh gemuruh
saling tuduh idealism tidak utuh,
tempat apa ini teriakku sungguh..
(Jember, Agustus 2009)


Mohammad Firza: Mahasiswa Ilmu Administrasi Negara Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Jember. Aktif menulis artikel opini dimedia cetak, beberapa tulisan pernah di muat di Radar Jember, saat ini masih belajar mandalami sastra dalam kajian puisi

Jumat, 09 Oktober 2009

sabar

Saban hari dia melangkah
Tangan terus tertadah
Mulut membusah ruah
Mendayu suara patah: “Bersabarlah…”
(Jember, 8 Oktober 2009)

Ibu

Tanpa menghiraukan rasa lelahmu kau timang aku,tanpa menggubris kantukmu kau lelapkan aku dalam dekapmu, kini aku tumbuh dalam bimbingmu,dalam nilai-nilaimu yg begitu luhur mampu memagari tiap sengat liku jalanku, kini aku hidup di rantau orang mencari ilmu untuk masa depan, sudah empat tahun aku belum melihat wajah lembutmu yg penuh kasih sayang itu, oh tuhan aku ingin membasuh kaki suci itu dan meminumkan pembasuh itu pada jiwa raga yang kotor ini, aku rindu padamu ibu...

Lebaran

seperti tahun sebelumnya, aku merasakan getirnya jd anak rantau ketika semua orang berbelai sanak saudara, aku lunglai di amuk rasa, namun inilah cerita yang ku bawa pulang nanti, cerita yang akan q dongengkan pada kawan, saudara, anak dan cucuku kelak, sebuah kisah perjalann sang perantau dalam mencari makna nilai-nilai kehidupan dalam dinamika bumi manusia (Minggu, 20 September 2009)

*Ganyang Malaysia*

"Lihatlah saudara.. lihatlah kelakuan mereka terhadap rumah kita! Lbh baik kita hancurkan saja “bangunan” yg sudah lama kita bangun ini, kita trpanggang rangka membangun raga, mrka lepas trtwa merampas senja..."
(Jember, 29 Agustus 2009)

*Taubatku*

Wahai tuhan jauh sudah kaki melangkah, aku hilang tanpa arah rindu hati sinarmu, wahai tuhan aku lemah hina berlumur noda, hapuskanlah terangilah jiwa di hitam jalanku, ampunkanlah aku terimalah taubatku sesunguhnyaengkau sang pengampun dosa, berikanlah aku kesempatan waktu, aku ingin kembali kepada-Mu, ya robbi izinkanlah aku kembali padamu meski mungkin takkan sempurna aku sebagai hamba -Mu..
(22 Agustus 2009)

*Perempuan*

Rintik gemintik hujan di magrib itu..
sosok hawa terlihat lunglai melambai
mencari adam sang pendawai..
seakan bermenung bingung dia menatapku,
kemudian kami bermuka-muka
beria-ria
bertemu dalam kata serasa…
(Jember,12 Agustus 2009)

*Semangat*

Aku terus membringsut siput,
tak jua kian kemput Saban hari kian terbaut,
mengikat diri tak dapat luput
Terus ku rangkaki meski penuh maki
Keyakinan diri berpatri…
(Jember,12 Agustus 2009)

*pejalan larut*

Saban hari kami lalui larut,
sebagai pejuang jalan kabut,
sekarang denture pandangan kami sering pasang surut,
membuat kami tak lagi seturut,
Ah.. bisa-bisa aku yang memberingsut
karena terpaut pada pengecut,
lembaran idealisme mulai jauh terbang
sejalan ku rangkul si biang arang..
dengan lirih aku berucap maaf teman aku harus menjauhimu...
(10 Agustus 2009)

*bahagia*

Sedikit bisa menghirup udara segar,
batinku meradang berteriak selamat tinggal hangar bingar,
sayup-sayup jogja terdengar, selamat datang di kota Jogja (5 Agustus 2009)

*Kampusku*

Inilah tempat awalku berpijak,
mengejar waktu mencari jejak,
untuk berdiri tegak, para pencari musuh,
riuh gemuruh saling tuduh idealism tidak utuh,
tempat apa ini teriakku sungguh..
(Jember, 05 Agustus 2009)

*Penat*

Hati terpukul denture,
semangat terkabur setengah hancur,
sejenak terfikir meninggalkan getir,
jogja kupilih tempat berparkir (4 Agustus 2009)

*Sawang sinawang*

…Siapa yang kasih harapan!
Ucapmu hentak menyeruak,
hatiku beku kaku lirih pilu,
Ah.. ku hapus saja ini rasa cinta terasa,
duhai bidadari lembut dalam hatiku yang berkabut,
tampaknya menjadi teman,
kau punya rengut takkan berlarut..
(Jember, 01 Agustus 2009)

*Sepiku*

Aku menyeru tanpa balas satu suara...
hanya lalu,
mati beku di udara...
sepi...
sunyi...
(Jember, 28 Juli 2009)

*Idealisme*

Nilai itu berapi-api,
bernyala-nyala dalam dada...
tak segala daya memadamkanya
(Jember, 23 Juli 2009)

*Rumah Kami*

Kemah peraduan ini
tempat kami bermuka-muka
berbini dan beranak
Tak ada daya bentur mampu hentak menyeruak

Semangat ini tumbuh
bak gelombang pasang
membuncah terjang
Walau pukulan bertalu ribut
Kami tetap pejalan larut
Menembus kabut…
(Jember, 21 Juli 2009

*Penghianat*

Lebih baik ku padamkn saja unggunan api ini,
aku terpanggang rangka,
mereka lepas tertawa...
(Jember, 18 Juli 2009)

*Karya Jalaludin Rumi*

"...Di rahim langit berjuta bulan,
kemah persembahayangan ini penuh bidadari,
hanya di balik si buta mereka bersembunyi..."
(Jember, 17 Juli 2009)

*Yakin*

Dengan penuh keyakinan aku berucap "harapan itu masih ada..." (Jember, 13 Juli 2009)
pilihan...pilihan...pilihan... setiap saat selalu terbentur pilihan... Oh Tuhan apakah ini salah satu makna itu... (Jember, 11 Juli 2009)

*Komitmen*

Hri ini tak terasa tlh ku hbskan hidupku 24 jam, kdang kala aku berfikir, brpa ratus kata yg trucap dari bibirku hari ini, brpa banyak kata yg brmanfaat untuk orang lain, brp bnyak kata yg tlah menyakiti orang lain, Brpa langkah jejak kaki ini sdh k...u jalalni hari ini, brpa langkah yg bermanfaat, brpa langkah yang tidak bermanfaat, Kadang komitmen untuk hidup bermakna mengalami fulktuasi dalam diri ini
(Jember, 29 Juli 2009)

*Hidup*

Hidup adalah kegelapan jika tanpa hasrat dan keinginan,
Dan semua hasrat dan keinginan adalah buta, jika tidak disertai pengetahuan,
Dan pengetahuan adalah hampa jika tidak diikuti pelajaran,
Dan setiap pelajaran akan sia-sia jika tidak disertai cinta…